Jelang 2019, Mari Kita Jaga Keutuhan Negeri Nan Elok Ini!


Tak terasa, kita sudah berada di tahun-tahun politik, dimana 2019 nanti kita akan merayakan pesta demokrasi 5 tahunan, yaitu Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden. Sebuah pesta yang sarat kepentingan bagi kelompok-kelompok tertentu. Namun, hakikatnya itu juga merupakan kepentingan kita sebagai rakyat Indonesia.

Seperti yang sudah kita ketahui, sejak Pilpres 2014 lalu masyarakat kita seolah terpecah dan menjadi terkotak-kotak. Masyarakat kita seakan terbelah bahkan mungkin memang sudah terbelah.

Dalam kacamata saya terbelahnya rakyat kita saat ini secara garis besar disebabkan oleh dua hal, yaitu Pilihan terhadap Presiden dan SARA.

Pasca 2014 lalu didalam dunia maya muncul 2 kelompok besar, yang mohon maaf mereka menyebut satu sama lain sebagai "Kecebong" dan "Kampret", sebuah istilah yang sebenarnya saya kurang suka.

Bagi saya siapa pun pemimpin negeri ini yang sedang menjabat, selagi memberikan banyak kebaikan, maka harus dan wajib kita jaga wibawa dan dan kehormatannya serta terus kita dukung untuk membangun negeri tercinta ini.

Pada tulisan ini, saya tidak akan membahas tentang kecebong dan kampret. Saya hanya ingin menekankan "mari resapi semua informasi yang berseliweran di dunia maya secara lebih bijaksana dan dengan riset yang akurat".

Jangan sampai, kita memakan dan menyebarkan HOAX yang apabila itu tidak benar sebagai sebuah fakta, maka akan menjadi fitnah yang sangat keji. Bukankah fitnah lebih kejam dari pada pembunuhan?

Tulisan ini sebenarnya juga merupakan pengingat bagi diri saya sendiri untuk lebih berhati-hati dalam menerima setiap informasi di dunia maya, seperti dari sosial media, maupun dari website dan blog-blog yang ada di internet.

Bagi saya berita-berita hoax yang tersebar di dunia maya adalah musuh dan ancaman paling besar terhadap kesatuan dan persatuan negeri ini. Apalagi bila ditambah dengan pola masyarakat kita yang masih suka menerima secara mentah informasi dari dunia maya tanpa riset terlebih dahulu.

Saya ingin mengajak kepada siapa saja yang membaca tulisan ini, mari kita awali dengan pertanyaan "apakah informasi ini benar?" terlebih dahulu sebelum berkomentar maupun menyebarkan (share) informasi yang ada di sosial media, wa dan lain sebagainya.

Sebagai contoh, beberapa waktu yang lalu tersebar sebuah video dengan caption yang menyatakan bahwa Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengaku-ngaku sebagai Perancang Lapangan Banteng dari nol.

Ketika itu, saya tidak langsung percaya dan saya munculkan pertanyaan terlebih dahulu "apakah ini benar?". Penasaran, akhirnya saya mencari di Youtube video versi lengkapnya, saya putar berulang-ulang dan saya mendapati bahwa Pak Anies sama sekali tidak mengaku-ngaku sebagai perancang Lapangan Banteng.

Dalam video aslinya pak anies justru memberi apresiasi kepada perancang Lapangan Banteng, yaitu bapak Yori Antar.

Namun, banyak netizen yang sudah terlanjur memakan mentah potongan video tersebut dan menghujat Pak Anies.

Termasuk berita hoax yang menyatakan bahwa Pak Jokowi adalah PKI dan seorang non muslim. Bukankah itu keji? Logika dari saya sangat-sangat tidak sampai dengan orang yang percaya tentang berita hoax seperti ini.

Kasus diatas hanyalah sebuah contoh, dimana saya ingin mengajak anda untuk "ayo hati-hati menyerap informasi".

Beberapa waktu lalu, saya juga mencoba mengamati akun-akun di instagram yang saling menghujat satu sama lain. Tak sedikit saya menemukan diantara sekian banyak akun, ternyata adalah akun baru bahkan beberapa masih memiliki jumlah follower 0.

Kemudian muncul pertanyaan dalam diri saya "apakah sebenarnya kita sedang dipermainkan?"

Jangan-jangan benar kita memang sedang dipermainkan oleh perilaku manusia-manusia tak bertanggungjawab yang mencoba menguasai kita melalui media sosial dan memecah belah bangsa kita?

Bisa saja mereka kemudian tertawa melihat kita saling hujat, saling bermusuhan, dan terpecah belah. Siapakah mereka? Saya pun juga tidak tahu... Apakah kita sedang dipermainkan?

Posting Komentar

Copyright © 2019

HERU SATRIA